Showing posts with label filasafat. Show all posts
Showing posts with label filasafat. Show all posts

Friday, December 7, 2018

ZAMAN HELENISME,ZAMAN PATRISTIK, DAN SKOLASTIK


ZAMAN HELENISME

Helenisme berasal dari ‘hellas’ = Yunani. Maksudnya, kebudayaan Yunani yang membanjiri seluruh wilayah kerajaan Iskandar Yang Agung, yang membentang dari India Barat hingga Mesir.
 Lalu-lintas intelektualnya terpusat di Athena (Yunani), Alexandria (Mesir), Antiochia (Syiria, Syam)
Kala itu ada 3 aliran filsafat yang ternama:
 1. STOISME (Zeno, 333 SM). Ajarannya etis, bahwa manusia akan bahagia bila tindakannya didasarkan pada rasio sehat, sesuai akalbudinya (rasional), tidak emosional. Dalam keadaan ia akan mencapai apa yang disebut ‘apathea (keadaan bebas, tanpa beban).
2. EPIKURISME (Epikuros, 341 SM). Ajarannya etis. Dikatakan, manusia harus memiliki kenikmatan sebanyak-banyaknya, tetapi kenikmatan tidak boleh memiliki kita. Itulah kebahagiaan, yakni sikap bijaksana untuk dapat membatasi diri.
 3. NEO-PLATONIS (Plotinos, 205-270 SM), filsuf MESIR. Filsafatnya kondang dengan sebutan EMANASI. Alam, katanya, adalah pendleweran atau tumpahan (emanasi) dari Yang Esa dan yang kembali pada-Nya. Ini terjadi karena adanya ‘eros’ (kerinduan pada Ilahi).


ZAMAN PATRISTIK DAN SKOLASTIK (400 1500 M)

Ini adalah jaman para Bapa Gereja dan sekolah-sekolah biara. Terjadi pada penghujung Jaman Kuno dan Abad Pertengahan, yang memang menunjukkan kuatnya dominasi gereja / iman kristiani. Masa emasnya dicapai pada era patristik dan skolastik, selain oleh besarnya pengaruh dari para filsuf muslim dan yahudi, terutama pada periode yang mempersiapkan Skolastik, yaitu sekitar tahun 900 dan 1200.

a. Zaman Patristik
Patres (Latin) = Bapa Gereja, pater. Dibagi Patristik Yunani dan Patristik Romawi.
 - Patristik Yunani (Patristik Timur), dengan para tokoh: Clemen dan Alexandria (150-215) Origenes (185-254) Gregorius dari Naziane (330-390) Gregorius dari Neza (3 35-394) Basilius (330-3 79) Dionysios Areopagita (± 500)

 - Patristik Latin (Patristik Barat), dengan tokoh: Helarius (31 5-367) Ambrogius (3 39-397) Hieronymus (347-420) Agustinus (3 54-430) Umumnya ajarannya dipengaruhi filsafat PLOTINUS, dengan ciri khas membela gereja dan serangan orang ‘kafir’. Visi filosofisnya sama yakni rnenunjukkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran terdalam manusia.

b. Zaman Skolastik Setelah kurang lebih 1000 tahun pikiran Plotinus mengharu-biru   blantika filsafat, mulailah ia tergesar oleh Aristoteles yang dikenalkan oleh para filsuf Islam macam Avecina (980-1087), Mamonides, dan terutama Averroes (1126- 1198) yang kondang dengan sebutan ‘Sang Komentator’ bagi ‘Sang Filsuf, Aristoteles.
Mengapa disebut Skolastik (Bhs. Latin: scholasticus = guru) Karena filsafat kala itu mulai diajarkan di sekolah-sekolah biara dan universitas dengan kurikulum tetap.

Tokohnya antara lain Thomas Aquino (1225-1274), Bonaventura (1217- 1274),  Yohanes Duns Scotus (1266-1308), Albertus Magnus (12001280). Tema pokok ajaran mengenai hubungan iman-akal, eksistensi Tuhan, antropoingi, etika, dan politik.

Filsafat jaman keemasan yunani

JAMAN KEEMASAN YUNANI FILSAFAT
 Yunani mencapai puncak pada era SPA (Socrates Plato Aristotle). SOCRATES muncul dengan seruannya yang termasyhur: ‘gnothi seauton’ (kenalilah dirimu sendiri). Sejak itu pemikiran filsafat lebih mengarah pada hakikat manusia, alias berubah dari corak kosmosentris ke antroposentris. Soerates tidak meninggalkan karyanya dalam bentuk pustaka., kecuali kemudian nanti ditulis oleh muridnya. Karya filsafatnya tumbuh melalui kegiatan dialog intensif. Dari dialog tersebut terkuaklah hakikat keadilan, kebenaran, kebahagiaan dan sebagainya. Metodenya demikian lain disebut ‘meiutika tekhne’ (teknik pembidanan), yakni bidan bagi lahirnya kebenaran atau hakikat.
 Cara dialog demikian menyebabkan sikap kritis, karena setiap pernyataan diperdalam maknanya dengan selalu ditanyakan kembali. Ini pulalah yang menyebabkan pemerintah setempat menganggap Socrates telah meracuni pikiran massa kala itu hingga harus membayarnya dengan dihukum menenggak racun. Ia getol menekankan pentingnya akal-budi. Salah satu ajaran pokonya mengatakan bahwa akal-budi merupakan norma penting bagi tindakan manusia. Kebahagiaan seseorang karenanya adalah tergantung pada baik tidaknya pengetahuan yang dimiliki.
 PLATO adalah murid Sokrates yang menuliskan karya-karya gurunya. Filsafatnya yang terkenal adalah tentang ‘dunia ide’. Dunia yang sesungguhnya adalah dunia ide yang sifatnya tetap dan abadi. Dunia nyata ini sebenannya hanya bayangan dari dunia ide, maka sifatnya maya dan berubah-ubah. Manusia sering salah sangka dengan ini, sehingga pengetahuannya atas apapun selalu keliru karena berangkat dari dasar yang salah.
 Filsafatnya ia gambarkan dengan “The Story of the Cave Man”. Filsafatnya merupakan jalan tengah antara Heraklitos (bahwa segalanya berubah) dan Parmenides (segalanya tetap). Yang tetap itulah ‘dunia ide’, yang berubah-ubah adalah dunia nyata ini. Filsafat Plato umumnya bersifat khayali, idealis. Karyanya amat bisa meliputi logika, epistemologi, etika, antropologi, kosmologi dan estetika. Bersama Socrates ia mempengaruhi Filsafat Barat selama kurang-lebih 2000 tahun.
 ARISTOTELES adalah murid Plato yang menjadi penasihat Iskandar Yang Agung (Dzul Qornain). la tak sependapat dengan Plato mengenai ‘dunia ide’. Menurutnya ‘dunia ide’ bukan di dunia sana tapi justru ada di dunia sehari-hari kita, yakni berada pada benda-benda. Setiap benda, katanya, selalu terdiri hyle (materi) dan morfe (bentuk). Meskipun sudah ada materinya (bahan), benda tak kan berwujud bila tak ada bentuknya (morfe). Morfe inilah yang menjadi ide keberadaan benda-benda. Jadi ia nyata ada di dunia ini.
 Pikiran Aristoteles dikenal sistematis dan mendalam. Karyanya meliputi bidang biologi. Etika, IPA, metafisika, bahasa dan terutama logika. Teori-teorinya masih dipakai sampai kini.

Saturday, December 1, 2018

Arti Sejarah Filsafat

IMK-,Sejarah Filsafat ialah deskripsi tentang perkembangan pemikiran filsafat yang pernah ada sepanjang sejarah manusia.Mengerti sejarah filsafat saja belum dapat dianggap telah memahami filsafat secara keseluruhan, karena dalam Sejarah Filsafat hanya di bicarakan secara umum bagaimana sebuah faham dan seorang tokoh muncul.
          Karena pengantar historis saja tidak mencukupi,maka diperlukan pengantar sistematis yang membicarakan aliran dan cabang-cabang filsafat.Dan sini akan diperoleh gambaran lebih jelas seorang filsuf,misalnya,termasuk aliran apa dan bagaimana pendapatnya mengenai kosmologi,epistomologi atau cabang tertentu.